Aluko Tuduh Privilege, Woods Tanggapi Hail Mary Wright

Kritik Eni Aluko Terhadap Ian Wright Picu Perdebatan Pundit Sepak Bola

Eni Aluko, mantan pemain sepak bola Inggris, kembali melontarkan kritik pedas terhadap Ian Wright, sesama pundit sepak bola, yang kini merambat menjadi diskusi panas mengenai representasi dalam dunia pundit olahraga. Insiden ini menarik perhatian publik ketika presenter Laura Woods memberikan pembelaan kuat terhadap posisi Wright.

Pada April 2025, Aluko menimbulkan kegemparan dengan menuduh legenda Arsenal, Ian Wright, sebagai penghalang bagi kesempatan bagi pundit perempuan dalam meliput pertandingan sepak bola wanita. Aluko kemudian meminta maaf secara tulus kepada Wright, mengakui kesalahannya saat menyebut nama Wright dalam konteks tersebut. Kendati demikian, Wright menyatakan kekecewaannya dan menolak permintaan maaf tersebut.

Kontroversi ini muncul kembali ketika Aluko mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap keputusan BBC dan ITV yang tidak memilihnya serta Fara Williams sebagai pundit padahal keduanya memiliki 290 caps bersama tim nasional. Aluko merasa bahwa dia dan Williams lebih layak daripada dua pundit pria yang mendapatkan kesempatan tersebut.

“Ada dua pria yang mendapatkan kesempatan itu, sementara di sini kami mempunyai 290 caps di bangku penonton,” ujar Aluko dalam podcast The90s Baby Show. “Masalah saya dengan Ian adalah, sebagai seseorang di posisinya, dia seharusnya memahami apa yang saya maksud.”

Menanggapi pernyataan tersebut, Laura Woods dengan tegas menolak pandangan Aluko, menegaskan bahwa pengalaman bermain sepak bola tidak seharusnya menjadi satu-satunya kriteria penilaian. “Caps tidak otomatis memberikan pekerjaan dan tidak membuat seseorang menjadi pundit yang hebat. Kemampuan berkomunikasi, mengartikulasikan diri, melakukan riset, serta memiliki chemistry dengan panel adalah hal-hal yang membuat seorang pundit menjadi hebat,” jelas Woods.

Woods menambahkan bahwa pembatasan berdasarkan gender dalam olahraga, termasuk punditry, dapat menahan perkembangan keseluruhan dan justru menghalangi pertumbuhan olahraga itu sendiri.

Wright, bersama Emma Hayes, Karen Carney, dan pundit lainnya, diakui sebagai sosok yang sangat mendukung perkembangan sepak bola wanita. Woods menyoroti bagaimana kehadiran Wright dalam dunia pundit sepak bola wanita mampu membawa lebih banyak penonton pria untuk tertarik pada olahraga tersebut, seiring dengan semakin seriusnya Wright dalam membahas pertandingan-pertandingannya.

Kritik terbaru ini seolah memperjelas perdebatan panjang tentang siapa yang paling berhak berada di kursi pundit. Meskipun Aluko merasa disisihkan, banyak yang berpendapat bahwa kesempatan dalam dunia pundit olahraga, seperti halnya dalam bermain, seharusnya diberikan berdasarkan kemampuan dan kontribusi nyata, bukan semata-mata berdasarkan pengalaman di lapangan.