Pada tanggal 18 Februari 2026, dalam sebuah pertandingan yang digelar di Molineux, Arsenal kembali menghadapi masa-masa sulit dalam perburuan gelar Liga Premier. Hasil imbang yang mengecewakan melawan Wolverhampton Wanderers menjadikan posisi mereka sebagai pemuncak klasemen semakin terancam oleh Manchester City yang siap mengambil alih.
Sebelum laga ini dimulai, keraguan sudah menyelimuti suasana. Pelatih Wolves, Rob Edwards, mengungkapkan bahwa anak asuhnya kehilangan tenaga setelah kemenangan di Piala FA melawan Grimsby Town. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Arsenal, di bawah kendali Mikel Arteta, gagal memanfaatkan kondisi lawan yang seharusnya bisa mereka kalahkan dengan meyakinkan.
Pada awal pertandingan, gol cepat datang dari Bukayo Saka. Dengan memanfaatkan umpan silang rendah dari Declan Rice, Saka berhasil mencetak gol dari posisinya sebagai gelandang nomor 10, sekaligus menambah pundi-pundi gajinya yang mencapai 300 ribu pound per minggu. Namun, performa Arsenal tidak menunjukkan adanya tanda-tanda keberanian untuk melanjutkan dominasi. Seperti yang disampaikan Conor Coady, mantan kapten Wolves yang kini menjadi pundit, Arsenal tampak malas bertarung dan hanya melakukan operan-operan mudah tanpa ancang-ancang menyerang lebih jauh.
Pertandingan berlangsung tanpa kenangan manis meski sempat diperkirakan Arsenal akan memacu serangan setelah gol tersebut. Kekecewaan lebih lanjut muncul tatkala Arsenal justru menyerahkan momentum kepada Wolves. Hugo Bueno, pemain Wolves, menunjukkan cara bermain sayap yang efektif dengan mencetak gol indah ke gawang Arsenal, menjadikan skor imbang dan memicu tekanan balik kepada Arsenal.
Mikel Arteta, di tepi lapangan, terlihat gelisah. Ketegangan yang terpancar seolah menular kepada para pemainnya. Arsenal, yang sebelumnya nyaman di puncak klasemen, kini tampak goyah dan berpotensi besar kembali kehilangan kesempatan meraih gelar liga. Peristiwa ini diperparah dengan blunder David Raya di menit-menit akhir, di mana tendangan debutan Wolves, Tom Edozie, menyamakan kedudukan dengan gaya penuh percaya diri.
Hasil ini memicu rasa pesimis terhadap kelanjutan kiprah Arsenal. Jika tidak ada peningkatan drastis dalam waktu dekat, Manchester City di bawah arahan Pep Guardiola siap melibas jalan Arsenal menuju gelar dengan performa mereka yang kian solid. Arsenal kini terancam kehilangan gelar yang telah lama mereka impikan dan bekerja keras dalam mencapainya. Tanpa perubahan signifikan dalam strategi dan mental permainan, The Gunners hanya bisa berharap dapat memperbaiki situasi mereka yang kembali terpuruk.