Eddie Howe Siap Mundur jika Tidak Lagi Menjadi Pilihan Tepat bagi Newcastle United
Eddie Howe, manajer Newcastle United, telah mengungkapkan keadaan di mana dia akan memilih untuk “mundur” dari tugasnya di St James’ Park, sebuah pertanyaan penting yang kini mulai mengemuka di tengah hasil yang mengecewakan dalam kampanye 2025/26. Tim berjuluk The Magpies ini sedang menghadapi masa sulit, dan posisi Howe di kursi kepelatihan menjadi bahan diskusi.
Musim ini, Newcastle menghadapi berbagai tantangan, mulai dari masalah internal klub yang menghambat jendela transfer mereka. Saga panjang mengenai kepergian Alexander Isak yang akhirnya hijrah ke Liverpool dengan banderol £125 juta menciptakan kekosongan yang belum berhasil diisi oleh Nick Woltemade, Yoane Wissa, maupun Anthony Gordon. Bahkan, satu-satunya pemain baru yang nyata memberikan dampak positif adalah Malick Thiaw.
Usai takluk dari Brentford dengan skor 3-2 pada akhir pekan, Newcastle kini menduduki posisi ke-12 di Liga Primer Inggris, dengan hanya meraih satu kemenangan dalam sembilan pertandingan di semua kompetisi. Dalam wawancara dengan media pada hari Senin, Howe menegaskan bahwa dirinya siap mundur jika ternyata bukan lagi “orang yang tepat” untuk peran tersebut.
“Tidak ada keraguan dalam benak saya bahwa saya adalah orang yang tepat, dan itulah mengapa saya duduk di sini,” ungkap Howe. “Jika saya ragu, maka saya tidak akan berada di sini, karena klub adalah yang paling penting. Saya tidak akan pernah menempatkan diri saya di atas klub.”
Dalam situasinya yang menantang saat ini, Howe mengakui adanya masalah serius dalam hal penyerang. “Ini adalah pertanyaan yang valid mengenai masalah penyerang Newcastlenya,” tambah Howe. Dia menekankan perlunya menemukan solusi terbaik untuk menghadapi pertandingan berikutnya dan bahwa ini mungkin akan terus berkembang seiring waktu hingga menemukan formula yang sesuai.
Meskipun tekanan kian meningkat, Howe tetap optimistis akan kemampuannya dan tim untuk membalikkan keadaan. Dalam beberapa pertandingan ke depan, dunia bisa saja terlihat sangat berbeda, ungkapnya penuh harap. Namun, jika ia merasa tak lagi bisa membawa tim maju, maka pilihan untuk menyerahkan tongkat estafet kepada sosok lain akan menjadi pertimbangannya.