Brighton tertunduk di hadapan Crystal Palace dengan kekalahan tipis 1-0 pada hari Minggu, semakin memperpanjang catatan buruk di Premier League dengan hanya meraih satu kemenangan dari 12 laga terakhir. Kondisi sulit ini menempatkan tim asuhan Fabian Hürzeler dalam bahaya ancaman degradasi.
Di akhir pertandingan melawan Palace tersebut, Hürzeler mendapat sorakan berupa nyanyian “kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan” dan “kamu akan dipecat besok pagi” dari tribun penonton. Namun, pelatih Brighton tersebut menegaskan bahwa dia berkomitmen untuk terus berjuang menghadapi situasi ini.
“Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan perasaan pribadi saya,” ungkap Hürzeler. “Semua orang bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika 25.000 orang menuntut dan bernyanyi tentang dirimu. Ini situasi yang tidak mudah, tapi hanya ada dua pilihan: menyerah atau bekerja lebih keras, dan saya selalu memilih yang kedua dalam hidup saya.”
Ia menjelaskan meski ini merupakan momen terberat dalam karir kepelatihannya, Hürzeler yakin bahwa dari pengalaman ini dia akan banyak belajar dan tumbuh secara pribadi. Ia juga menyoroti persoalan yang dihadapi timnya, yaitu kepercayaan diri dan hasil yang dapat dicapai.
“Saya berjanji, saya memberikan hati dan jiwa saya untuk klub ini dan akan terus berusaha menemukan solusi bersama tim dan para pemain,” ucapnya.
Hürzeler menekankan bahwa penting untuk bekerja keras dan saling merekatkan dalam menghadapi masa-masa sulit seperti ini, serta menargetkan laga selanjutnya pada hari Rabu sebagai kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Ia juga mengakui reaksi suporter Brighton, namun berharap mereka tetap memberikan dukungan bagi tim. “Kritik untuk saya tidak masalah, selama mereka tetap mendukung tim, karena saya kira para pemain, terutama yang masih muda, sangat membutuhkan dukungan itu,” jelas Hürzeler.